Serba-Serbi Festival Literasi Kota Padang Panjang Tahun 2019

Festival Literasi Kota Padang Panjang , 15 s/d 17 Maret 2019, bertempat di Lapangan Bancah Laweh Kota Padang Panjang

FESTIVAL LITERASI 2019

Lomba Baca Puisi Se-Sumatera dan Lomba Penulisan Cerita Rakyat Se-Sumatera Barat di Kota Padangpanjang. Silakan menghubungi Anggun 081261680268 atau Okma Yanti 081261177855.

KEPADA SELURUH PEMBACA PUISI HANDAL YANG BERDOMISILI DI WILAYAH SUMATERA, SILAKAN UNTUK MENDAFTARKAN DIRI ANDA DALAM LOMBA BACA PUISI SE-SUMATERA DI KOTA PADANGPANJANG, SUMATERA BARAT. KAMI TUNGGU DENGAN CINTA.

JUKNIS Lomba Baca Puisi Tingkat Sumatera (14-15 Maret 2019)
A. Ketentuan Lomba
Lomba Baca Puisi tingkat Sumatera tahun 2019, terbuka untuk umum, penyair, teaterawan, seniman, pecinta dan penikmat seni baca puisi berusia paling rendah 15 tahun dan paling tinggi 45 tahun berdomisili di Wilayah Sumatera dengan menyertakan fotocopy identitas (KTP/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa/SIM/Paspor .

Peserta hanya membacakan 1 (satu) puisi dari 10 (Sepuluh) judul puisi yang terlah disediakan panitia.
Klasifikasi peserta lomba tidak dibedakan antara Lelaki dan Wanita.
Peserta diharapkan berkenan mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perlombaan, dan mengisi formulir pendaftaran yang disedia panitia (Formulir Pendaftran dapat diperoleh di Perpustakaan Daerah Kota Padang Panjang

Hasil keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

B. Waktu
Pendaftaran peserta mulai tanggal 20 Januari 2019 sampai dengan 12 Maret 2019.
Technical meeting dilaksanakan pada hari Rabu, 13 Maret 2019, pukul 16:00 Wib bertempat di Perpustakaan Daerah Kota Padang Panjang
Pelaksanakan Lomba mulai tanggal 14 sampai dengan 15 Maret 2019 bertempat dib Bancah Laweh
Pengumuman dan pembahagian Hadiah para pemenang pada tanggal 15 Maret 2019 PukuL 09.00-12.00 WIB di Lapangan Bancah laweh

C. Puisi-Puisi Pilihan untuk dibacakan
Rumah (Sulaiman Juned)
Dari Didong Hingga Saluang (Mustafa Ismail)
Menuju Padangpanjang (Toto ST. Radik)
Semalam di Padangpanjang (Budhi Setyawan)
Dheni Kurnia (Roh Besi)
Ketika Indonesia di Hormati Dunia (Taufiq Ismail)
Kepada Kawan (Chairil Anwar)
Kisah Penjual Peta (Iyut Fitra)
Kematian Angin, Kematian Sebuah Ingin (Esha Tegar Putra)
Bercakap-cakap pada Gambar (Sutan Iwan Soekri Munaf)

D. Hadiah
Juara I : Trophy + Piagam + Uang Tunai Rp. 5.000.000,-
Juara II : Trophy + Piagam + Uang Tunai Rp 3.500.000,-
Juara III : Trophy + Piagam + Uang Tunai Rp 2.000.000,-

Sekretariat Panitia Perpustakaan Daerah Kota Padang Panjang
Contack Person: Anggun : 081261680268
Okma Yanti : 081261177855
email : panitiafestival.literasi2019@gmail.com
Facebook : Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan

PUISI-PUISI PILIHAN
Karya: Sulaiman Juned
RUMAH
aku
menyaksikan telaga dimatamu
tempat segala pandang rubuh. Aku
hanya ingin sebuah rumah berisi mawar
sepanjang perjalanan menyebarkan harum
bagi setiap pendatang yang dititipkan Tuhan pada kita
bukan renyai luka di senja hati. Dimanapun
mengais hidup tetap beri arti
pada matahari, dan bulan
biar segala kasih
dan sayang
terisi.

aku
menyaksikan telaga dimatamu
berdoa setiap subuh dan senja menuliskan
mimpi yang kita riwayatkan bagi anak dan cucu
tentang nasib seperti sungai mengalir ke laut
lalu bersama merakit hati dihulunya walau terkadang dikepung lara
berujung getir, kita tak bergeming dalam pekat dan sansai
bersama menyulam kalbu dalam kabut. Saksikan
anak-anak menghidupi api di kepala. Rindu
tersayat, perihnya bersarang
di hati.

aku
menyaksikan telaga dimatamu
membuat rumah tempat kita berteduh selamanya
walau berjalan dalam kabut. Tak usah
ajarkan aku bagaimana mengalahkan
sepi. Pernahkah engkau menikmati
sunyi dalam keramaian, seperti
sembilu menyayat jiwa. Tak usah
ajarkan aku bagaimana menikmati
cinta. Tak usah ajarkan aku bagaimana siang dan malam
tanpa bintang bergasing atas kepala. Tak usah
ajarkan aku bagaimana bulan purnama dan sabit hilang
dalam pekat terkadang gerimispun menepi
di pipi.

: Mari aku rabakan sayang dan cinta agar gelap merayap pada tepi, Ah!
-Padangpanjang, 2017-

Karya: Mustafa Ismail
DARI DIDONG HINGGA SALUANG
di sepanjang jalan, kau membentangkan hijau hutan,
suara azan dari surau yang menyusul syair puji-pujian dari
dinniyah putri, cahaya bermekaran di kegelapan
menyala dari rumah-rumah gadang di setiap tikungan,
ditingkahi bansi, saluang, gendang tabuik, hingga sarunai
kita memanjatkan doa, katamu, kepada Tuhan Yang Satu.

aku berdiri di belang rumahmu, sambil membayangkan:
puisi seperti kembang api yang meledak di kabut gunung
menggantikan kokok ayam di kampung-kampung
pagi itu aku menghadap ke Gunung Tandikek
melihat seorang petarung mendaki dengan kaki telanjang
“aku adalah pijar-pijar lava di gunung api,” katanya.

setiap sore, kau membentangkan almanak dan menandai satu persatu angkanya
ini adalah jalan kesunyian, katamu, hanya kekal di kegelapan
kita sempat bercakap sambil bermain bola di pagi buta
tentang pohon-pohon kopi yang tumbuh di ramabutmu
mengekal syair didong, pmtoh, hingga seudati
terkadang di ujung malam, kau berdendang mirip seorang
pertapa yang merintihkan pepongoten di Bebesen
tapi kadang mirip syech seudati dari kampung Usi.

seperti laron, beranda selalu penuh coretan,
Koran-koran tua, juga huruf-huruf yang bergerombol,
Bermain petak-umpet dan menggigil di jendela

“kami adalah jalan berliku di Lubuak Aluang hingga
Lembah Anai dan Gua Batu Batirai,” Katamu
“kau adalah perantau yang sekuat bakau.”

di kampung Jambak, aku selalu melihat didong dan seudati
dimainkan dalam iringan bansi dan saluang,
dank au menjadi teungku yang dipanggil engku!

Depok, 2018

Karya: Toto ST Radik
MENUJU PADANGPANJANG
sepanjang apakah jalan menuju
padang yang membentang bergelombang
dikepung tiga gunung dan gugusan bukit barisan?

hujan senantiasa dating
bersama kabut rahasia
menjemput tuah tuan gadang di batipuh

dan ruh para padri
di hutan luhak agam yang sunyi
mengemban adat dan kitabullah

di sini angin tak pernah mati
meniti puncak tandikek, singgalang, dan marapi
mencatat rindu yang tumbuh

berkecambah di dalam hatiku
bertahan dari dera derita
dan menjadikannya tenaga untuk berbahagia

o, padang panjang
aku ingin singgah mereguk sejuk ketinggianmu
menulis puisi

dan tersenyum sepanjang hela nafas.
Serang, 4.2.2018

Budhi Setyawan
SEMALAM DI PADANG PANJANG
kumasuki ranahmu ketika senja lindap
dan pintu malam terbuka bagi awal cerita
dalam dingin berkabut yang menikam
serta tahun mundur beberapa silam
seperti ada bisikan:
engkau tak sendirian

lampu-lampu jalanan tekun menyibak remang
di kelok dan tanjakan yang memanggil langkah
memberi arah bagi pejalan yang hendak letakkan
kesibukan yang tekun menyusun kota-kota
di dalam tubuhnya yang berpeluh
meski tahu riwayat tak akan mencatat tetesan keluh

gunung marapi dan singgalang
berdiam dalam kesederhanaan di kejauhan
seperti masa kecil dengan mata batin yang menatap
dan tak pernah sunguh-sungguh lenyap
bahwa ada sekelumit kisah yang tertanam menyala
lewat deret percakapan cuaca
di beberapa jeda menerbitkan sekumpulan letupan
memijarkan jejak dalam ingatan

aku bersamamu hanya semalam
ya cuma semalam, Padang Panjang
dalam basah udara oleh gerimis yang mengiris
sepoi sepi dan menggariskan risalah diri
mengingatkan pada lengkung lampau
ayat-ayat yang memekarkan surau

di masa kanak yang tak pernah tanak
dan tetes hujan terngiang berulang berkali
seperti mengatakan dengan larik lirih:
kau akan kembali ke sini

pun ketika azan subuh mengetuk lembar fajar
ada yang mengeluarkan getar
otot dan pembuluh waktu bangun tersadar
renik pandang menafsir terang
jemari ruh meraba ruang
ada yang mencetus, terkejut dalam denyut
betapa gegas sehampar pertemuan

bukankah semalam akutak bermimpi
bahwa kita baru menyimak sejuk sajak sajak sunyi di sini
sembari menakwilkan sehimpunan keramaian
di sepanjang penampang hari-hari.
Padang Panjang, 2017


Karya: Chairil Anwar
KEPADA KAWAN
sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa.

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat
Tidak minta ampun atas segala dosa
Tidak memberi pamit pada siapa saja

Jadi
Mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pandangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
30 November 1946

Karya: Dheni Kurnia

ROH BESI
Kejang aku kejang rungkup
Kejang tunjang tengah laman
Kebal aku kebal tutup
Terucap kulit tak berjalan
Terkunci terkancing tak melepuh
Hai besi bangunlah
Engkau si raja besi
Yang bernama si ganda bisa
Engkau duduk di kepala jantung.

Aku bersandar di tiang arasy
Kuminta tabalkan diriku
Kuminta datangkan roh besi
Berkat aku memakai wujud
Kodrat sayidina ali
Terbujur lalu melintang patah
Jadikan aku dengan roh besi
Kehendak aku kehendak Allah
Terpukau aku di kuat nabi

Harimau dating mayat menanti
Mayat dating harimau menanti
Mim kepalaku nun bahuku
Pusatku dalam dal besi
Kakiku alam tubuhku angin
Aku kasih kepada Allah
Aku kuat kepada Musa
Aku beraja di besi panas
Terinjak aku tapi tak mati.
Pasir Keranji, 05.2015

Karya: Iyut Fitra
KISAH PENJUAL PETA
–mengenang PDRI
(pada musim yang baik uir-uir dan kuning padi
kekanak berebut laying-layang
di lepau-lepau ada kawa dan lemang panggang
singgahlah!
Kusampaikan kisah penjual peta…)

matahari senantiasa pucat sebelum senja. serupa wajah lengang
barangkali telah bertahun ia di gerbang itu
menggenggam selembar peta. menunggu dan berkata
singgahlah! ceritaku tak sekedar kaba, tapi juga sejarah
yang nyaris rengkah. simpanlah di kalbumu sebelum cinta mendiam beku

kemudian bulan-bulan lewat. orang-orang lewat
segala mengulang di antara jejak dan keringat petualang
selain bukit ngalau, lembah harau atau legenda puti sari banilai
ia merasa peta yang kesepian
lapuk tak terbaca. usang tiada terjelang

berbilangkali. berhari-hari ia bernyanyi
halaban, kenanglah halaban
jangan biarkan sejarah bangsa ini kian kelam ke ujung jalan
basuh lukanya sebelum segala tenggelam dalam rendam
lagi-lagi hanya sepi yang tak berkutik. bayang ditinggal orang-orang
selebihnya mungkin gema yang memantul di dinding gerbang
bukittinggi, payakumbuh, koto tinggi, situjuah, padang jopang,
bidar alam, sumpur kudus
ia sepuh peta itu setiap waktu. ia usap
ia teriakkan agar siapa saja singgah
halaban, kenanglah halaban
hingga segala berlalu dalam deru–atau mungkin debu

(pada musim yang baik. uir-uir dan kuning padi
kekanak berebut laying-layang
di lepau-lepau ada kawa dan lemang panggang
singgahlah!
Meski penjual peta itu tak lagi ada…)
Payakumbuh, Desember 2013

Karya: Sutan Iwan Soekri Munaf
BERCAKAP PADA GAMBAR
Bercakap pada gambar
seperti mengembangkan imaji
dan waktu mengetuk-ngetuk pintu sepi
sambil menangkap perjalanan terhampar
kemudian seluruh legenda datang membayang
menangkap detik di setiap ruang
hati. Engkau kembali mengulang-ulang
kisah yang sudah menjadi sejarah:
Aku dan waktu saling berebut
mimpi yang lama tersimpan!
Dan menit selalu datang menantang
dengan suara lantang. Aku menangkap kalimat yang hilang
dari balik makna yang datang!
Jam pun mengaduk-aduk rindu. Gerah
menjalani hari di simpang kemelut
dan menuliskan kembali seluruh kerinduan!
Ya. Bercakap pada gambar
seperti waktu kembali mengajak berlayar
membiarkan minggu datang menyebar
menerima bulan dan tahun tanpa bisa menolak
dan semakin padam niat memberontak
Aku ingin memahami
betapa waktu semakin berlari
dan sepi harus berarti
Bekasi, 2011

Karya: Esha Tegar Putra

KEMATIAN ANGIN,
KEMATIAN SEBUAH INGIN
Lalu engsel pada pintu akan koyak
daun jendela segera tanggal,
bunyi krik ketika jemarimu menyentuh kaca

–ketebalan debu, Cintaku, ketebalan debu
rumah dan segalanya seakan tua tiba-tiba.

Dalam mataku langit masih ganih
pohon-pohon tumbuh kokoh dalam ketebalan kabut.

“Kita tidak sedang bersajak, bukan?” katamu.
Waktu masih begitu, bergerak di antara ‘iya’ dan ‘tidak’.

Lalu jalan-jalan bukan lagi yang itu,
pagi serupa penumpang ketinggalan bis,
musim dengan gerak lain
meranggaskan pucuk-pucuk ampalam.

Dan bila malam kerlip lampu di kota
Memberi tanda matamu padam.

Hari yang benar lain,
aku tulis sajak dalam kematian angin
kematian sebuah ingin.
Padag, 2011

Karya: Taufiq Ismail
KETIKA INDONESIA DIHORMATI DUNIA
Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka.

Itulah pemilihan umum yang paling indah dalam sejarah bangsa
Pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam sejarah kita
Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah jujur dan adil
Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil Cuma dilaksanakan
Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi
Pesta demokrasi tak dilisankan, pesta demokrasi Cuma dilangsungkan
Pesta yang bermakna kegembiraan bersama
Demokrasi yang berarti menghargai pendapat berbeda

Pada waktu itu taka da yang huru hara yang menegangkan
Pada waktu itu tidak ada setetes pun darah ditumpahkan
Pada waktu itu tidak ada satu nyawa melayang
Pada waktu itu tidak sebuah mobil pun digulingkan lalu dibakar
Pada waktu itu tidak sebuah pun bangunan disulut api berkobar
Pada waktu itu tidak ada suap-menyuap tak terdengar sogok-sogokan
Pada waktu itu dalam perhitungan suara, taka da kecurangan

Itulah masa, ketika Indonesia dihormati dunia
Sebagai pribadi, wajah kita simpatik berhias senyuman
Sebagai bangsa, kita dikenal santun dan sopan
Sebagai massa kita jauh dari kebringasan, jauh dari keganasan
Tapi enam belas tahun kemudian, dalam 7 pemilu berturutan
Untuk sejumlah kursi, 50 kali 50 sentimeter persegi dalam ukuran
Rakyat dihasut untuk berteriak, bendera partai mereka kibarkan
Rasa bersaing yang sehat berubah jadi rasa dendam dikobarkan
Kemudian diacungkan tinju, naiklah darah,
Lalu berkelahi dan berbunuhan
Anak bangsa tewas ratusan,
Mobil dan bangunan dibakar puluhan
Anak bangsa muda-muda usia,
Satu-satu ketemu di jalan mereka sopan-sopan
Tapi bila mereka sudah puluhan apalagi ratusan di lapangan
Pawai keliling kota
Berdiri di atap kenderaan, melanggar semua aturan
Di kepala diikat bandana, kaos oblong disablon
Di tangan bendera berkibaran
Meneriak-neriakkan tanda seru
Dalam sepuluh kalimat semboyan dan slogan
Berubah mereka jadi bringas
dan siap mengamuk, melakukan kekerasan
batu berlayangan, api disulutkan, pentungan diayunkan
dalam hura-hara yang malahan mungkin, pesanan
Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah prilaku
Bangsaku
2004

AYO IKUT SERTA DALAM LOMBA PENULISAN TENTANG CERITA RAKYAT YANG HIDUP DAN BERKEMBANG DI KOTA PADANGPANJANG:

Juknis Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tingkat Sumatera Barat
A. Ketentuan Lomba
1. Lomba Penulisan Penulisan Cerita Rakyat Se-Sumatera Barat 2019, terbuka untuk umum, seniman, pecinta dan peminat penulisan cerita rakyat berusia 15 tahun sampai dengan 45 tahun. Peserta berdomisili di wilayah Sumatera Barat dengan menyertakan fotocopy identitas (KTP/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa/SIM/Paspor). Turut menyertakan Surat pernyataan karya asli yang ditandatangi di atas materai Rp. 6.000,-
2. Cerita rakyat yang di ikutsertakan dalam perlombaan bersumber dari cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kota Padangpanjang, Sumatera Barat.
3. Lomba dibuka 20 Januari 2019 sampai dengan 5 Maret 2019. Setiap peserta hanya mengirimkan 1 (satu) karya terbaiknya kepada panitia. Karya dapat diantar ke sekretariat panitia atau dikirim melalui email panitiafestival.literasi2019@gmail.com , Dan contak Person :
Anggun : 081261680268
Okma yanti : 081261177855

4. Cerita Rakyat adalah karya asli, ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Boleh mempergunakan bahasa daerah (Kearifan Lokal) untuk memperkaya bobot karya, tetapi harus dijelaskan dalam catatan kaki (foot-note)
5. Panjang cerita rakyat antara 6.000 sampai dengan 9.000 kata. Ditulis dengan huruf Times New Roman, font 12, berjarak 1,5 spasi.
6. Naskah Cerita Rakyat yang dilombakan menjadi milik panitia dan hak cipta milik penulis. 10 (Sepuluh) nominasi karyanya akan dibukukan dan masing-masing penulis mendapat 1 eksplar buku tersebut.
7. Pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 15 Maret 2019 di Lapangan Bancah Laweh juga melalui media sosial.

B. Hadiah
Juara I : Trophy Tetap + Piagam + Uang Tunai sebesar Rp. 1.500.000,-
Juara II : Trophy Tetap + Piagam + Uang Tunai sebesar Rp. 1.000.000,-
Juara III : Trophy Tetap + Piagam + Uang Tunai Sebenas Rp. 500.000,-

C. Dewan Juri.
Dr. Sulaiman Juned, M.Sn
Dr. Arzul Jamaan, M.Hum
Yusrizal KW

Sekretariat Panitia
Contack Person : anggun : 081261680268
Okma yanti : 081261177855
Email : panitiafestival.literasi2019@gmail.com

Kunjungan SDN 07 Silaing Bawah

Jum’at 25 Januari 2019,

Pagi Sahabat Pustaka, hari ini Perpustakaan Daerah Mendapat Kunjungan dari SDN 07 Silaing Bawah , 52 Siswa dan 2 orang Guru Pendamping. nonton Film Edukasi Biduak dan Film Dokumenter Gempa 1926. dan dilanjut kunjungan ke Galery Arsip untuk melihat foto-foto bersejarah.

Salam Literasi.